Semua Anak Papua Memiliki Peluang Yang Sama Menjadi Pemimpin

0
169

Jakarta-Bupati Paniai, Meki Nawipa mengatakan, semua anak (mahasiswa) Papua memiliki peluang yang sama menjadi pemimpin. Namun, harus menjadi pemimpin yang berkarakter dan takut akan Tuhan.

Hal itu disampaikan Bupati Paniai, Capten Pilot, Meki Nawipa saat memberikan materi pada seminar sehari bertema “Inisiasi Informasi Pembangunan Papua” di Aula Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Depok, Jawa Barat, Jumat (8/2/2019).

“Saya hanya anak seorang guru dan penginjil. Tetapi saya bisa kuliah lima tahun di Australia. Di mana sehari saya bisa ambil mata kuliah selama 13 jam. Selama 15 tahun, saya menjadi pilot, saya menerbangkan orang sakit dari pedalaman Papua untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di kota. Kabut angin kencang sudah saya lewati. Dan kenapa saat ini saya menjadi bupati? Semua itu hanya karena kemurahan Tuhan,” ungkap Meki Nawipa.

Bupati Meki bersama Mahasiswi UI asal Papua

Ia mengaku tidak ingin terjebak dalam kasus yang lazim menimpa pemimpin di Papua. Katanya, sebagai orang baru yang masuk dalam dunia birokrasi pemerintahan, ia ingin bekerja keras membangun Kabupaten Paniai di atas nilai kejujuran, hati yang bersih dan sikap takut akan Tuhan. “Jadi bupati bukan untuk cari uang karena jadi pilot itu saya bisa dapat seratus sampai dua ratus juta per bulan,” imbuhnya.

“Saya bahkan menyesal jadi bupati hari ini. Saya lihat banyak abunawas, pencuri uang. Kalau kita penerbang ya tidak bisa abunawas, tidak bisa tipu. Lurus saja,” katanya

Pada kesempatan itu, Nawipa juga mengingatkan para mahasiswa Papua agar menjauhi minuman keras, narkoba dan seks bebas. Ia mengatakan, salah satu masalah krusial di Papua termasuk Paniai adalah tingginya kasus HIV-AIDS. Saat ini, katanya, angka penderita HIV-AIDS di Pania mencapai 15 ribu orang.

Menjadi sukses, kata dia, ada tiga kunci bagi generasi muda Papua menjadi pemimpin yang berkarakter. Pertama, haru memiliki sikap takut akan Tuhan. Kedua, rajin membaca Alkitab dan berdoa. Ketiga, setia pada Tuhan. Ketiga hal ini akan membentuk karakter anak Papua dan Indonesia yang mampu melawan hal-hal negatif, termasuk menolak suap.

“Setiap hari saya baca Alkitab. Saya dapat hikmat. Saat di awal kepemimpinan, saya juga tak langsung ganti para pejabat di SKPD. Jabatan itu Tuhan yang kasih, saya tak boleh gegabah. Saya harus lihat mereka kerja 6 bulan dulu sesuai aturan baru dilakukan penilaian, apalagi mereka juga putra daerah,” katanya.

Meki mengisahkan, dulu di masa kecil, akibat perang suku, ia dibawa oleh orang tuanya dari Enaro ke kampungnya. Sesampai di kampung juga terjadi perang yang sama. Tapi kondisi tersebut tak membuatnya berhenti mengejar cita-cita.

“Saya bermimpi harus kuliah di Jayapura, lalu ke Jakarta dan luar negeri. Bahkan saat di Jakarta saya pernah jadi tukang sapu di Maskapai MAF sebelum sekolah pilot. Di situ saya belajar apa arti kesetiaan. Berkat kesetiaan, saat  kuliah ada orang baik yang kasih tinggal saya di apartemen,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Papua drg. Aloysius Giyai, M.Kes mengatakan di tengah kondisi geografis yang menantang dan minimnya Sumber Daya Manusia (SDM), Papua membutuhkan inovasi program terobosan dari para pemimpinnya agar bisa maju dengan daerah lain di Indonesia.

“Kita masih punya banyak keterbatasan, tetapi kita tidak boleh menangisi keadaan ini. Kita harus kerja lebih keras 1.000 kali karena hanya kita yang bisa menyelamatkan Papua. Karena itu kita harus buat program terobosan, program inovatif, bukan yang rutin. Yang kami minta, Pemerintah Pusat dukung kami sebagai anak bangsa,” ujar Aloysius. (**)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here